Rabu, 19 Oktober 2016

Makalah STRATIFIKASI SOSIAL


A.     Definisi Stratifikasi Sosial
Kata stratification  berasal dari stratum (jamaknya: strata yang berarti lapisan). Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa social strattification adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis).[1]
Stratifikasi sosial merupakan proses pembedaan individu-individu dalam masyarakat yang menyebabkan kemunculan suatu hierarki yang terdiri dari lapisan atau strata yang berlainan kedudukannya. Stratifikasi sosial adalah hasil dari interaksi sosial dan merupakan suatu fenomena sosial yang agak meluas dalam semua masyarakat. pada dasarnya stratifikasi melibatkan keistimewaan yang berbeda-beda serta peluang hidup (life chances) yang berlainan. Kalangan dalam lapisan sosial yang berlainan mempunyai peluang hidup dan keistimewaan yang berlainan (peluang hidup untuk meliputi peluang untuk mencapai cita-cita tertentu, peluang untuk menikmata kemudahan sosial, dan yang lainnya).[2]
Stratifikasi sosial merupakan konsep sosiologi, artinya kita tidak akan menemukan masyarakat seperti kue lapis, tetapi pelapisan merupakan suatu konsep untuk menyatakan bahwa masyarakat dapat dibedakan secara vertikal menjadi kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah berdasarkan kriteria tertentu. [3]
Pelapisan sosial atau stratifikasi sosial (social stratification) adalah pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal (bertingkat), stratifikasi selalu melihat pengategoriannya pada dimensi vertikal dari struktur sosial masyarakat, dalam arti melihat perbedaan masyarakat berdasarkan pelapisan yang ada, apakah berlapis-lapis secara vertikal dan pelapisan tersebut bersifat terbuka dan tertutup.[4]
Kingsley Davis dan Wilbert Moore berargumen bahwa tidad ada masyarakat yang pernah tidak terstratifikasi, atau tidak berkelas secara total. Stratifikasi, dalam pandangan mereka adalah kebutuhan fungsional. Semua masyarakat membutuhkan sistem demikian, dan kebutuhan itu menghasilkan suatu sistem stratifikasi. Mereka juga memandang suatu sistem stratifikasi sebagai suatu struktur, yang menunjukan bahwa stratifikasi mengacu bukan kepada individu yang ada di dalam sistem stratifikasi itu tetapi lebih tepatnya kepada suatu sistem posisi-posisi. Mereka berfokus kepada cara posisi-posisi tertentu membawa serta kadar prestise yang berbeda-beda, bukan mengenai cara para individu menduduki posisi-posisi tertentu. [5]
Stratifikasi sosial adalah suatu lembaga yang menyentuh begitu banyak ciri kehidupan, termasuk “kekayaan, politik, karier, keluarga, klub, komunitas, gaya hidup”.[6]
B.     Terbentuknya Stratifikasi Sosial
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan materiil dari pada kehormatan, misalnya, mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan materiil akan menempati kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan puhak-pihak lain. Gejala tersebut menimbulkan lapisan masyarakat, yang merupakan pembedaan posisi sesorang atau suatu kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal.
Bahkan pada zaman kuno dahulu, filsuf Aristoteles (Yunani) mengatakan di dalam negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka kaya sekali, melarat, dan berada di tengah-tengahnya. Ucapan demikian paling tidak membuktikan bahwa di zaman itu, dan sebelumnya, orang telah mengakui adanya lapisan masyarakat yang mempunyai kedudukan bertingkat-tingkat dari bawah ke atas.[7]
Adanya sistem lapisan masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu. akan tetapi, ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Alasan terbentuknya lapisan masyarakat yang terjadi dengan sendirinya adalah kepandaian, tingkat umur (yang senior), sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harus dalam batas-babas tertentu. alasan-alasan yang dipakai berlainan bagi tiap-tiap masyarakat. Pada masyarakat yang hidupnya dari berburu hewan alasan utama adalah kepandaian berburu. Sementara itu, pada masyarakat yang telah menetap dan bercocok tanam, kerabat pembuka tanah (yang dianggap asli) dianggap sebagai orang-orang yang menduduki lapisan tinggi. Hal ini dapat dilihat misalny apada masyarakat Batak, dimana marga tanah, yaitu marga yang pertama-tama membuka tanah, dianggap mempunyai kedudukan yang tinggi. Demikian pula golongan pembuka tanah di kalangan orang Jawa di desa dianggap mempunyai kedudukan tinggi karena mereka dianggap sebagai pembuka tanah dan pendiri desa yang bersangkutan. Masyarakat lain menganggap bahwa kerabat kepala masyarakatlah yang mempunyai kedudukan yang tinggi dalam masyarakat, misalnya pada masyarakat Ngaju di Kalimantan Selatan.
Secara teoretis, semua manusia dapat dianggap sederajat, akan tetapi, sesuai dengan kenyataan hidup kelompok-kelompok sosial, halnya tidaklah demikian. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian sistem sosial setiap masyarakat. untuk meneliti terjadinya proses-proses lapisan masyarakat, dapatlah pokok-pokok sebagai berikut yang dijadikan pedoman
a.    Distribusi hak-hak istimewa yang objektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan (kesehatan, laju angka kejahatan), wewenang dan sebagainya;
b.    Sistem pertanggaan yang diciptakan para warga masyarakat (prestise dan penghargaan);
c.    Kriteria sistem pertentangan, yaitu apakah didapat berdasarkan kualitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang, atau kekuasaan;
d.    Lambang-lambang kedudukan, seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian, perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan selanjutnya;
e.    Mudah atau sukarnya bertukat kedudukan;
f.     Solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang menduduki kedudukan yang sama dalam sistem sosial masyarakat seperti.
1)      Pola-pola interaksi-interaksi (struktur klik, keanggotaan organisasi, perkawinan dan sebagainya);
2)      Kesamaan atau ketidaksamaan sistem kepercayaan, sikap dan nilai-nilai;
3)      Kesadaran akan kedudukan masing-masing;
4)      Aktivitas sebagai organ kolektif.
Seperti telah diuraikan, ada pula sistem lapisan yang dengan sengaja disusun untuk mengajar suatu tujuan bersama. Hal itu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan wewenang resmi dalam organisasi-organisasi formal, seperti pemerintahan, perusahaan, partai politik, angkatan bersenjata atau perkumpulan.
Apabila suatu masyarakat hendak hidup dengan teratur, kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi dengan teratur pula sehingga jelas bagi setiap orang di tempat mana letaknya kekuasaan dan wewenang dalam organisasi, secara horizontal dan vertikal. Apabila kekuasaan dan wewenang tidak dibagi secara teratur, kemungkinan besar sekali akan terjadi pertentangan-pertentangan yang dapat membahayakan keutuhan masyarakat. [8]
C.     Sifat Sistem Lapisan Masyarakat
Sifat sistem lapisandi dalam suatu masyarakat dapat bersifat tertutup (closed social stratification) dan terbuka (open social stratification). Sistem lapisan yang bersifat tertutup membatasi kemungkinan pindahnyaseseorang dari satu lapisan ke lapisan lain, baik yang merupakan gerak ke atas atau ke bawah. Di dalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan untuk menjadi anggota suatu lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Sebaliknya didalam sistem terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik lapisan, atau, bagi mereka yang tidak beruntung jatuh dari lapisan atas ke lapisan bawahnya. Pada umumnya sistem terbuka ini memberi perangsang yang lebih besar kepada setiap anggota masyarakat untuk dijadikan landasan pembangunan masyarakat daripada sistem yang tertutup.
Sistem kasta di India telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Istilah untuk kasta dalam bahasa India adalah yati, sedangkan sistemnya disebut varna. Menurut kitab Rig-Veda dan kitab-kitab Brahmana, dalam dalam masyarakat India Kuno dijumpai empat varna yang tersusun dari atas ke bawah, diantaranya :
1.    Brahmana: merupakan kasta pendeta, yang dipandang sebagai lapisan tertinggi
2.    Ksatria: merupakan kasta orang-orang bangsawan dan tentara dipandang sebagai lapisan kedua
3.    Vaicya: merupakan kasta para pedagang yang dianggap sebagai lapisan menengah (ketiga)
4.    Sudra: adalah kasta orang-orang biasa (rakyat jelata).
Sedangkan mereka yang tak berkasta adalah golongan Paria. Susunan kasta tersebut sangat kompleks dan hingga kini masih dipertahankan dengan kuat, walaupun orang-orang India sendiri kadangkala tidak mengakuinya.
Sistem kasta semacam di India juga dijumpai di Amerika Serikat, dimana terdapat pemisahan yang tajam antara golongan kulit putih dengan golongan kulit berwarna terutama orang-orang Negro. Sistem tersebut dikenal dengan segregation yang sebenarnya tak beda jauh dengan sistem apartheid yang memisahkan golongan kulit putih dengan golongan asli (pribumi) di Uni Afrika Selatan.
Sistem lapisan yang tertutup, dalam batas-batas tertentu, juga dijumpai pada masyarakat Bali. Menurut kitab-kitab suci orang Bali, masyarakat terbagi dalam empat lapisan, yaitu Brahmana, Satria, Veisa dan Sudra. Ketiga lapisan pertama biasa disebut triwangsa, sedangkan lapisan terakhir disebut jaba yang merupakan lapisan dengan jumlah warga terbanyak. Keempat lapisan itu terbagi lagi dalam lapisan-lapisan khusus. Biasanya orang-orang mengetahui dari gelar seseorang, ke dalam kasta mana dia tergolong. Gelar-gelar tersebut diwariskan menurut garis keturunan laki-laki yang sepihak patrilineal seperti Ida Bagus, Tjokorda, Dewa, Ngahan, Bagus, I Gusti, Gusti. Gelar pertama adalah gelar orang Brahmana. Gelar kedua sampai dengan keempat bagiorang-orang satria, sedangkan yang kelima dan keenam berlaku bagi orang-orang Vaicya. Orang0orang Sudra juga memakai gelar-gelar sepeti Pande, Kbon, Pasek dan selanjutnya. Dahulu kala gelar tersebut berhubungan erat dengan pekerjaan orang-orang yang bersangkutan. Walaupun gelar tersebut tidak memisahkan golongan-golongan secara ketat, tetapi sangat penting bagi sopan santun pergaulan. Di samping itu, hukum adat juga menetapkan hak-hak bagi si pemakai gelar, misalnya, dalam memakai tanda-tanda, perhiasan-perhiasan, pakaian-pakaian tertentu, dan lain-lain. Kehidupan kasta di Bali umumnya terlihat jelas dalam hubungan perkawinan. Seorang gadis suatu kasta tertentu umumnya dilarang bersuamikan seseorang dari kasta lebih rendah.[9]
bahkan dikatakan seorang yang miskin cenderung semakin menjadi-jadi kemiskinannya.
D.     Unsur stratifikasi sosial
Dalam stratifikasi sosial terdapat dua pokok, yaitu status (kependudukan) dan peranan. Status dan peranan mempunyai hubungan timbale balik yang merupakan unsur  penentu bagi penempatan seseorang dalam steata tertentu dalam masyarakat. Kedudukan dapan memberikan pengaruh, kehormatan, kewibawaan, pada seseorang;[10] sedangkan peranan merupakan sikap tindak seseorang yang menyandang dalam status sosial dalam kehidupan masyarakat.
1.      Status sosial
Menurut Mayor Polak (1979), status dimaksudkan sebagai kedudukan sosial seorang oknum dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek, pertama; aspek yang agak stabil, dan kedua aspeknya yang lebih dinamis. Polak mengatakan bahwa status mempunyai status aspek struktural dab aspek fungsional. Pada aspek uang pertama sifatnya hirarkis, artinya mengandung perbandingan tinggi atau rendahnya secara relatif terhadap status-status lain. Sedangkan aspek yang kedua dimaksudkan sebagai peranan sosial yang berkaitan dengan status tertentu, yang dimiliki seseorang.
2.      Peranan sosial
Peranan sosial adalah suatu perbuatan seseorang dengan cara tertentu dalam usaha menjalankan hak dan kewajibannya sesuai dengan status yang dimilikinya. Seseorang yang dikatakan berperan jika ia telah melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status sosialnya dalam masyarakat. Jika seseorang mempunyai status tertentu maka dalam kehidupan masyarakat, maka selanjutnya da kecenderungan akan timbul suatu harapan-harapan baru. Dari harapan-harapan ini seseorang akan bersikap dan bertindak atau berusaha untuk mencapai dengan cara dan kemampuan yang dimiliki. Oleh karena itu peranan dapat juga dapat didefinisikan sebagai kumpulan harapan yang terancang seseorang yang mempunyai status tertentu dalam masyarakat. Dengan singkat peranan dapat dikatakan sebagai sikap dan tindakan seseorang yang sesuai dengan statusnya dalam masyarakat. Atas dasar definisi tersebut maka peranan dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai aspek dinamis dari status.
Ciri pokok yang berhubungan dengan istilah peranan sosial adalah terletak pada adanya hubungan-hubungan sosial seseorang dalam masyarakat yang menyangkut dinamika dari cara-cara bertindak dengan berbagai norma yang berlaku dalam masyarakat, sebagaimana pengeakuan terhadap status sosialnya. Sedangkan fasilita-fasilita utama seseorang yang akan menjalankan peranannya adalah lembaga-lembaga sosial yang ada dalam masyarakat. Biasanya lembaga masyarakat menyediakan peluang untuk pelaksanaan suatu peranan.[11]
Peranan seseoprang lebih banyak menunjukan suatu proses dari fungsi dan kemampuan mengadaptasi diri dalam lingkungan sosialnya.
Dalam pembahasan tentang aneka macam peranan melekat pada individu-individu dalam masyarakat, Soerjono mengutip pendapat Marion J. Levy Jr., bahwa ada beberapa pertimbangan sehubungan dengan fungsinya, yaitu sebagai berikut:
a.       Bahwa peranan-peranan tertentu harus dilaksanakan apabila struktur masyarakat hendak dipertahankan kelangsungannya.
b.      Peranannya tersebut seyogianya diletakan pada individu yang oleh masyarakat dianggap mampu untuk melaksanakannya. Mereka harus telah terlebih dahulu terlatih dsan mempunyai pendorong untuk melaksanakannya.
c.       Dalam masyarakat kadang-kadang di jumpai individu-individu yang tak mampu melaksanakan peranaannya sebagai mana diharapkan oleh masyarakat, oleh karena mungkin pelaksanaannya memerlukan pengorbanan yang terlalu banyak dari kepentingan-kepentingan pribadinya.
d.      Apabila semua orangm sanggup dan mampu melaksanakan peranannya, belum tentu masyarakat akan dapat memberikan peluang-peluang yang seimbang. Bahkan sering kali terlihat betapa masyarakat terpaksa membatasi peluang-peluang tersebut. 
Soerjono Soekanto membedakan status dengan status sosial; status diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial, sehubungan dengan orang-orang lain dalam kelompok tersebut atau tempat suatu kelompok berhubungan dengan kelompok-kelompok lainnya di dalam kelompok yang lebih besar lagi. Sedangkan status sosial diartikan sebagai tempat seseorang seraca umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulan prestisenya, dan hak sertya kewajiban-kewajibab. Kedudukan sosial tidak terbatas pada pengertian kumpulanstatus-status sosial tersebut mempengaruhi status-status orang tadi dalam kelompok-kelompok sosial yang berbeda.[12]
E.     Sistem Stratifikasi Sosial
Sistem stratifikasi sosial dalam masyarakat ada yang bersifat terbuka dan ada yang bersifat tertutup. Stratifikasi sosial yang terbuka ada kemungkinan anggota masyarakat dapat berpindah dari status satu kestatus lainnya berdasarkan usaha-usaha tertentu. Misalnya seorang yang bekerja sebagai petani mempunyai kemungkinan dapat menjadi tokoh agama jika ia mampu meningkatkan nilai kesalahnya dalam menjalankan agamanya. Seorang anak buruh tani dapat mengubah statusnya menjadi seorang dokteratau menjadi presiden sekalipun, apabila ia rajin belajar, berpolitik dan bercita-cinta untuk itu. Sebaliknya seorang anak presiden belum tentu dapat mencapai status presiden.
Dengan demikian berarti dalam sistem stratifikasi terbuka, setiap anggota masyarakat berhak dan mempunyai kesempatan untuk berusahan dengan kemampuan sendiri untuk naik status, atau mungkin juga justru stabil atau turun status sesuai dengan kualitas dan kuantitas usahanya sendiri. Dalam sistem statifikasi ini biasanya terdapat motifasi yang kuat pada setiap anggota masyarakat untuk berusaha memperbaiki status dan kesejahteraan hidupnya. Sistem staratifikasi sosial terbuka lebih dinamis dan anggota-anggotanya cenderung mempunyai ciota-cita yang tinggi. Keselamatan dari sistem stratifikasi sosial ini biasanya anggota-anggotanya selalu mengalami kehidupan yang tegang dan was-was, lantaran di dalam memperjuangkan cita-cita itu selalu bersaing dan berebut kesempatan untuk naik status yang jumlahnya relative terbatas sebagai akibatnya banyak anggota masyarakat yang mengalami guncangan konflik antar sesamanya.
Pada sistem stratifikasi sosial yang tertutup terdapat pembatasan kemungkinan untuk pindah ke satu status ke status lainnya dalam masyarakat. Dalam sistem ini satu satunya kemungkinan untuk dapat masuk ke dalam status tinggi dan dalam kehormatan masyarakat adalah kelahiran atau keturunan. Hal ini jelas dapat di ketahui dari kehidupan masyarakat yang mengagungkan kasta seperti di india misalnya dalam kehiudupan masyarakat yang masih menganut paham feodalisme, atau dapat pula terjadi pada suatu masyarakat dimana statusnya di tentukan atas dasar ukuran perbedaan ras dan suku bangsa.[13] Stratifikasi sosial tertutup lebih bersifat statis, lebih-lebih bagi mereka yang termasuk golongan bawah, jarang ada yang memiliki cita-cita yang tinggi. Dalam sistem ini status para anggota masyarakat bersifat permanen dalam tingkat sosial, disamping hubungannya dengan anggota masyarakat yang dibatasi oleh status yang dimilikinya. Sistem stratifikasi tertutup sering disebut sebagai sistem yang kaku dan ekstrim, oleh karena seorang yang dilahirkan sebagai penyimpangan adat (lampung), ia tidak dapat ingkar dan meninggalkannya; kemampuan pribadi tidak diperhitungkan dalam menentukan tinggi rendahnya status.
Dengan demikian dapat diketahui beberapa ciri dari sistem stratifikasi tertutup, yaitu sebagai berikut:
1.      Status di tentukan atas dasar keturunan.
2.      Status yang diperoleh atas keturunman itu tidak dapat diubah dan berlaku seumure hidup; kecuali karena pelanggaran adat tertentu sehingga seseorang pewaris status dikeluarkan dari golongan adat.
3.      Hubungan atara sesamanya di tentukan atas dasar kesamaan status dengan mengikuti pola perilaku dan tata-krama adat yang berlaku.
4.      Harga diri merupakan pandangan hidup.
F.      Mobilatas Sosial
Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat-sifat hubungan antar individu dalam kelompok dan hubungan antar individu dengan kelompoknya.
Tipe-tipe gerak sosial yang diprinsipil ada dua macam, yaitu gerak sosial yang horizontal dan vertikal. Gerak sosial horizontal merupakan peralihan individu atau objek-objek sosial lainnya dari suatu kelompok.sosial ke kelompok sosial lainnya. Contohnya adalah seseorang yang beralih kewarganegaraan beralih pekerjaan yang sederajat atau mungkin juga peralihan., atau gerak objek-objek sosial seperti misalnya radio, mode pakaian, ideology dan lain sebagainya. Dengan adanya gerak sosial yang horizontal, tidak terjadi perubahan dalam derajat dalam kedudukan seseorang ataupun suatu objek sosial.[14]
Gerak sosial vertikal merupakan sebagai perpindahan individu atau objek sosial dari suatu kedudukan sosial kedudukan yang lainnya, yang tidak sederajat. Sesuai dengan arahnya, maka terdapat dua jenis gerak sosial yang vertikal, yaitu yang naik dan yang turun. Gerak sosial vertikal  yang naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu:
a.       Masuknya individu-individu yang mempunyai kedudukan rendah ke dalam kedudukan yang lebih tinggi, dimana kedudukan tersebut telah ada.
b.      Pembentukan suatu kelompok baru, yang kemudian ditempatkan pada derajat yang lebih tinggi dari kedudukan individu-individupembentuk kelompok tersebut.
Gerak sosial vertikal yang menurut mempunyai dua bentuk utama, yaitu:
a.       Turunnya kedudukan individu kedudukan yang lebih rendah derajatnya.
b.      Turunya derajat kelompok individu yang dapat berupa disintegrasi kelompok sebagai kesatuan.
Kedua bentuk tersebut di atas dapat diibaratkan sebagai seorang penumpang kapal laut yang jatuh kelaut, atau sebagai kapal yang tenggelam bersama seluruh penumpangnya atau apabilakapal itu pecah.[15]











Daftar Pustaka
Burhan, Bungin. ( 2008 ). Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi

Komunikasi di Masyarakat, Jakarta: Pradana Media Grup.

Nasrullah, Adon Jamaludin. ( 2015 ). Sosiologi Pedesaan, Bandung: Pustaka Setia.

Rahman, Taufiq.(2011 ). Glosari Teori Sosial, Bandung: Ibnu Sina Press.

Ritzer, George. ( 2012). Teori Sosiologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Soekanto,Soerjono. ( 2013 ). Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers.







[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 198
[2]Taufiq Rahman, Glosari Teori Sosial, (Bandung: Ibnu Sina Press, 2011), hlm. 118-119
[3]Adon Nasrullah Jamaludin, Sosiologi Pedesaan, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), hlm. 65
[4]Ibid. Hlm. 67
[5]George Ritzer, Teori Sosiologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 403
[6]Ibid. Hlm. 460
[7]Soerjono Soekanto, Op.Cit., hlm. 197
[8]Ibid. Hlm. 199
[9]Ibid. Hlm. 212
[10]Bungin Burhan, Sosiologi Komunikasi Teori Paradigma dan Diskursus Teknologi Komunikasi di Masyarakat, (Jakarta: Pradana Media Grup, 2008) Hlm.91-94
[11]Ibid Hlm.94
[12]Ibid Hlm.95
[13]Ibid Hlm.87-88
[14]Soekanto Soejono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013).hlm 219-220

[15]Ibid .Hlm 219-220

Jumat, 07 Oktober 2016

BERKIRIM SURAT YUK!!!

Berbalas surat memang menyenangkan, seakan ada sebuah daya tarik yang tak ada habisnya dari setiap kata yang terangkai menjadi kalimat dan kalimat menjadi paragraf. 

bahkan ketika huruf pertama di tuliskan untuk membuat surat, perasaan selalu di tantang dengan kejutan, tentang pertanyaan bagaimana raut nuka dia ketika mebacanya? , apakah surat ini akan terbalas? apakah ini akan di robek-robek lalu dibuang ke tempat sampah? atau surat ini tak sampai kepadanya dan hilang entah kemana, entah tersesat di jalan atau diterima oleh orang yang salah.

Hemm percayalah ini sungguh mendebarkan lebih mendebarkan daripada sekedar chating di sosial media seperti bbm, whatsaap, line dll.

Karena saking mendebarkannya pengalaman menulis surat dan menerima surat, saya tuliskan kembali surat yang pernah kuterima dari seseorang yang sekarang ada di sisiku yang menemani aku, walau pun dalam surat ini tertulis ada bagian yang mengatakan "pacarmu sudah menjelaskan...." Hehe ya karena pada saat surat di terima dia masih jadi pengaggum, dan akhirnya dialah yang ada disisiku.. hehe

Ini dia....

Surat Negara Sangat Rahasia


Ini di pagi hari, di tulis dengan hati
sayang sungguh sayang sekali, aku tak bisa melihat karakter lewat tulisannya. Mungkin kamu yang bisa. Jika ia, aku tidak akan malu, aku akan senang jika benar kau mengenalku seperti halnya aku mengenalmu meski bukan lewat tulisanmu.

Mengenai mimpimu, mimpimu aneh karena tak bisa dan tak pernah aku bersandar padamu. Tapi sudahlah, itu hanyalah mimpi. Akupun sempat beberapa kali bertemu denganmu lewat mimpi, namun seberapa keraspun aku mengingat, tak pernah sekalipun kamu memandangku. Seingatku kamu hanya berbicara pada orang lain. Ah sudahlah, lagi-lagi itu hanyalah mimpi, toh mimpi dan dalam kenyataannya pun sama.

Sekarang bagaimana kabarmu? nampaknya sangat sibuk, sibuk apa? ya.. sibuk ini itu ya? ya ya ya tak perlu dijawab, pacarmu sudah menjelaskan runtutan dan perihal-perihal apa yang kamu kerjakan.

Hei, sekarang sedang apa dirimu? apakah sama denganku? sedang duduk? atau tidur? kalau aku sedang menikmati dinginnya pagi sembari mengaji, eh salah sembari membalas suratmu maksudnya. :)

Jika kamu ingin tahu kabar yang lain, yang lain baik-baik saja, tuh mereka sedang mengaji di dalam masjid. kalau aku di luar, berada dalam golongan "menular" (mengaji dan nundutan di luar) Tadinya saya mau ngalogatan kitab. Tapi entah kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk membalas suratmu.

Hei kamu, disini dingin. Bagimana disana? 
Disini mataharinya masih malu-malu untuk bersinar.
Disini juga aku bisa mendengarkan suara ustad Ahmad Yani yang datar
Siulan burung dari genting tetangga
Percikan air yang terdengar dari keran wc yang setengahnya terbuka
Melihat kucing yang berlari kesana kemari 
Dan kamu, kamu yang nampak jelas tak ada di pagi ini.

Semoga kamu baik-baik saja disana
Hiduplah yang sehat
Jaga jiwa dan ragamu
cepatlah pulang!
kesini ke tempat ini

Thya, 30-10-2015 05:32

Rabu, 27 Juli 2016

MAKALAH Bagian-bagian Epistemologi


 

KATA PENGANTAR


Segala puji dan syukur bagi Allah SWT. Tuhan semesta alam, atas segala Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga kami selaku penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini yang berjudul Bagian-bagian Epistemologi. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada Nabi Muhammad SAW. beserta keluarganya dan para sahabatnya serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Makalah tentang Bagian-bagian Epistemologi ini, dimaksudkan untuk menjadi salah satu bahan bacaan dan memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Pengantar Filsafat.
Dalam penulisan makalah ini penyusun menyadari masih jauh dari kata sempurna. Atas segala kekurangan dan kesalahan, kiranya para pembaca berkenan untuk menyampaikan saran dan kritik. Terima kasih.



DAFTAR ISI




KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN
PEMBAHASAN
A. LOGIKA
B. PENGETAHUA
C. ILMU
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA


 


PENDAHULUAN

Dalam Filsafat Ilmu terdapat tiga landasan ilmu yakni Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Ketiga landasan ilmu tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Pasalnya banyak hal yang masih menjadi kerau-raguan di diri seseorang. Sehingga orang mulai bertanya-tanya dan mengharapkan jawaban yang benar. Tapi bagimankah cara mengetahui jawaban yang benar itu?

Berbagai cara telah dilakukan pada masa yunani kuno dalam rangka memperoleh ilmu dan kebenarannya. Mulai dari perenungan, pengalaman, eksperimen dan sebagainya.semua itu dilakukan hanya untuk mencari kepuasan terhadap gejala yang tampak. Sehingga pada akhirnya Filsafat berhasil mebawa peradaban manusia pada kemajuan.

Pada epistemologi lebih memfokuskan pada permasalahan cara mendapatkan ilmu. Sedangkan pada hakekat ilmu dan kegunaanya masuk dalam landasan Ontologi dan aksiologi. Oleh sebab itu makalah ini berusaha untuk menjabarkan secara rinci tetntang Epistemologi.

Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan secara rinci Bagian-bagian Epistemologi. Sebab Epitemologi tidak kalah pentingnya dengan kedua landasan lainnya. Sehingga diharapkan setiap orang bisa menghilangkan keragu-raguan dalam menjawab suatu fenomena.



PEMBAHASAN
Epistemologi mempunyai 3 bagian yaitu :
A. LOGIKA





Logika merupakan sub-bagian dalam studi Epistemologi. Dalam mempelajari Epistemologi tidak boleh mengabaikan logika, karena dasar pertanyaan dari Epistemologi ialah “bagaimana”. Logika disini berperan dalam menjawab sebuah gejala secara rasio atau nalar dengan membuat formalisasi. Contohnya.

Hukum logika merupakan dasar teori yang sudah diketahui selama ribuan tahun. Bila implikasi B (disebut consequens juga) dari hipotesis B (disebut antecendens juga) maka belum tentu bahwa A (yang lebih umum dari pada B) itu benar, tetapi bila hanya satu kali saja implikasi A tidak terjadi, maka A telah dibuktikan salah.

Menurut Karl Raimund Popper, semua hukum itu alam, malahan segala teori ilmu alam pun, tidak pernah dapat mencapai lain kedudukan dari hipotesis, yaitu percobaan saja dan selama usaha agar hipotesis-hipotesis yang bersangkutan dibuktikan salah dapat terjadi, selama itu pula ilmu alam berkembang dan disempurnakan.Popper berpendapat demikian karena, suatu hipotesis bila terbukti salah, maka harus ditinggalkan dan diganti dengan hipotesis yang baru. Kedua jika salah satu usur hipotesis ternyata dibuktikan salah, maka unsur tersebut ditinggalkan dengan mempertahankan inti hipotesis untuk disempurnakan. Terakhir sebuah hipotesis masih bertahan sebelum dapat dibuktikan salah.

B. PENGETAHUAN

Banyak pihak yang menyatakan bahwa hanya jenis pengetahuan tertentu yang benar-benar layak disebut pengetahuan. Hal yang demikian dilakukan Bertrand Russel ketika mengkhususkan kata ini hanya untuk pengetahuan sains, sedangkan yang lain dianggap mendekati ilmiah.

Meskipun pernyataan Russel ini terdengar masuk akal, namun bertentangan dengan maksud Epistemologis, sebab Russel mengambil keputusan dengan meyakini keunggulan sains diatas pengetahuan yang lain. Sebaliknya, filsafat pengetahuan adalah keterbukan macam-macam makna “pengetahuan”. Membuka setiap kemungkinan serta setiap cara-cara memperoleh pengetahuan disebut “pengetahuan”.

Setidaknya segala peradaban di dunia ini ada karena pengetahuan, baik itu pengetahuan tentang alam, atau pun perenungan. Para filsuf terdahulu megawali filsafat melalui perenungan untuk mencari hakikat kebenaran, di masa itu kebenaran masih bersifat relatif (individu). Banyak cara dalam memperoleh pengetahuan, baik dengan pemikiran Rasionalisme, Empirisme, Strukturalisme, dan lain-lain. Selain bentuk pemikiran, terdapat pula pola dalam menjelaskan hasil berpikir sesuai gejala yang timbul.

  1. Kebenaran Pengetahuan
Ada beberapa teori yang menjelaskan tentang kebenaran (Surajiyo, 2005) antara lain sebagai berikut :
  1. The correspondence theory of truth (Teori Kebenaran Saling Berkesesuian). Berdasarkan teori pengetahuan Aristoteles yang menyatakan bahwa kebenaran itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud dengan faktanya.
  2. The Semantic Theory of Truth (Teori Kebenaran berdasarkan Arti). Berdasarkan Teori Kebenaran Semantiknya Bertrand Russell, bahwa kebenaran (proposisi) itu ditinjau dari segi arti atau maknanya.
  3. The consistence theory of truth (Teori Kebenaran berdasarkan Konsisten). Menurut teori ini, suatu pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu bersifat konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar.
  4. The pragmatic theory of truth (Teori Kebenaran berdasarkan Pragmatik). Yang dimaksud dengan teori ini ialah bahwa benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata tergantung kepada faedahnya bagi manusia dalam kehidupannya.
  5. The Coherence Theory of Truth(Teori Kebenaran berdasarkan Koheren) Berdasarkan teori Koherennya Kattsoff (1986) dalam bukunya Element of Philosophy, bahwa suatu proposisi itu benar, apabila berhubungan dengan ide-ide dari proposisi terdahulu yang benar.
  6. The Logical Superfluity of Truth (Teori Kebenaran Logis yang berlebihan). Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Ayer, bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan berakibatkan suatu pemborosan, karena pada dasarnya apa yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logis yang sama dan masing-masing saling melingkupi.
  7. Teori Skeptivisme, suatu kebenaran dicari ilmiah dan tidak ada kebenaran yang lengkap.
  8. Teori Kebenaran Nondeskripsi. Teori yang dikembangkan oleh penganut filsafat fungsionalisme, yang menyatakan bahwa suatu pernyataan mempunyai nilai benar tergantung pada peran dan fungsi dari pada pernyataan itu.

Kebenaran dapat dibuktikan secara : Radikal (Individu), Rasional (Obyektif), Sistematik (Ilmiah), dan Semesta (Universal). Andi Hakim Nasution dalam bukunya Pengantar ke Filsafat Sains, bahwa kebenaran mempunyai tiga tingkatan, yaitu haq al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan ‘ilm al-yaqin. Adapun kebenaran menurut Anshari mempunyai empat tingkatan, yaitu:
1) Kebenaran wahyu,
2) Kebenaran spekulatif filsafat,
3) Kebenaran positif ilmu pengetahuan,
4) Kebenaran pengetahuan biasa.
Pengetahuan yang dibawa wahyu diyakini bersifat absolut dan mutlak benar, sedang pengetahuan yang diperoleh melalui akal bersifat relatif, mungkin benar dan mungkin salah.

  1. Terjadinya Pengetahuan
Menurut Made Pidarta (1997:77) ada lima sumber pengetahuan:
1) Otoritas, yang terdapat dalam enseklopedi, buku teks yang baik, rumus, dan tabel;
2) Common sense, yang ada pada adat dan tradisi;
3) Intuisi yang berkaitan dengan perasaan ;
4) Pikiran untuk menyimpulkan hasil pengalaman;
5) Pengalaman yang terkontrol untuk mendapatkan pengetahuan secara ilmiah.

Menurut John Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis (Abbas Hamami, 1982 ) mengemukakan ada enam alat untuk memperoleh pengetahuan, yaitu :
1. Pengalaman Indra ( sense experience)
2. Nalar ( reason )
3. Otoritas ( authority )
4. Intuisi ( Intuition )
5. Wahyu (revelation )
6. Keyakinan ( faith )

  1. Macam-Macam Pengetahuan
Macam-macam pengetahuan menurut Imanuel Kant ialah :
  1. Pengetahuan Analitis; predikat sudah termuat dalam subyek. Predikat diketahui melalui suatu analisis obyek. Misalnya, lingkaran itu bulat.
  2. Pengetahuan Sintetis Aposteriori; predikat dihubungkan dengan subyek berdasarkan pengalaman indrawi.
  3. Pengetahuan Sintetis Apriori: Akal budi dan pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Ilmu pesawat, ilmu pasti bersifat sintetis apriori. (Surajiyo, 2005)

C. ILMU
Dalam ilmu, orang berusaha mematangkan pengetahuan dengan memenuhi tolak ukur yang sesuai. Hal ini merupak sebuah cara dalam merumuskan tujuan penyelidikan ilmiah. Dalam memperoleh ilmu hendaknya tahu terlebih dari dahulu. Hal ini dikarenakan ilmu muncul akibat keragu-raguan yang dipikir secara reflektif. Pemikiran secara reflektif ini disebut pengetahuan yang dapat berubah menjadi ilmu jika dilakukan penyelidikan atau pembuktian secara ilmiah. Contohnya dalam tata surya, orang terdahulu menganggap matahari mengelilingi bumi, pernyataan seperti ini disebut pengetahuan yang didasarkan pada pengalaman. Pernyataan diatas masih memdapatkan pertimbangan karena belum terbukti secara ilmiah, ketika kenyataannya berbeda dan dapat dibuktikan secara ilmiah bisa disebut sebagai pengetahuan dan ilmu. Dalam studi ilmiah disebut Ilmu Astronomi.
Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ilmu adalah merupakan sekumpulan pegetahuan yang disusun secara konsisten serta teruji kebenarannya secara empiris dalam menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia untuk melakukan tindakan dalam menguasai gejala tersebut sesuai penjelasan yang ada.
Dengan definisi demikian, maka akan timbul pertanyaan? Apakah pengetahuan yang teruji secara ilmiah namun tidak bisa dijadikan sebuah ketetapan dapat dikatakan ilmu? Ilmu menurut pengertian secara umum ialah semua pengetahuan yang dapat diuji kebenarannya serta pasti. Bagaimana dengan sejarah? Apakah itu termasuk dalam golongan ilmu atau humaniora? Hal seperti sejarah sulit sekali dicari kebenarannya, sebab penggunaan data sejarah sering kali merupakan penuturan orang, bisa saja orang itu berbohong.
  1. Klasifikasi Ilmu
Menurut Cristian Wolff, klasifikasi ilmu pengetahuan ialah :
  1. Ilmu pengetahuan empiris :
  • Kosmologi empiris
  • Psikologi empiris
  1. Matematika
  • Murni : aritmatika, geometri aljabar
  • Campuran : mekanika, dll.
  1. Filsafat:
  • Spekulatif (metafisika)
    a. Umum :ontologi
    b. Khusus: psiokologi, kosmologi, theologi
  • Praktis:
    a. Intelek-logika 

    b. Kehendak : ekonomi, etika, politik
    c. pekerjaan fisik : teknik.

  1. Tahap-Tahap Perkembangan Ilmu
Dalam perkembangnnya, ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu :
  1. Tahap Sistematika.
Pada tahap ini, ilmu menggolongkan obyek empiris ke dalam kategori- kategori tertentuuntuk menemukan ciri-ciri yang bersifat umum yang merupakan pengetahuan bagi manusia dalam mengenal dunia fisik.
  1. Tahap Komparatif.
Pada tahap ini manusia mulai membandingkan antara kategori yang satu dengan kategori yang lain.
  1. Tahap Kuantitatif
Pada tahap ini manusia mencari hubungan sebab akibat, tidak lagi berdasarkan perbandingan melainkan berdasarkan pengukuran yang eksak dari obyek yang sedang disediki.
  1. Karakteristik Ilmu
Menurut Surajiyo alam bukunya Ilmu Filsafat suatu Pengantar (2005), karakteristik pengetahuan dalam 5 bagian, adalah:
  1. Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan.
  2. Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur.
  3. Obyektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi.
  4. Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan dan peranan dari bagian-bagian itu.
  5. Verifikatif, pengetahuan dapat diperiksa kebenarannya oleh siapapun.
PENUTUP
Kesimpulan

Sebagai sebuah landasan ilmu, Epistemologi berperan dalam munculnya pengetahuan-pengetahuan yang selanjutnya dilakukan eksperimen untuk di spesifikasikan mana yang masuk kategori ilmu.

Epistemologi tidak dapat berdiri sendiri tanpa logika, sebab alat pertama dalam menjawab suatu gejala adalah logika. Pertama logika bersifat kemungkinan, kedua bersifat peluang, sedangkan pembuktiannya menggunakan eksperimen.







DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Hardono, Epistemologi Filasafat Pengetahuan, Yogyakarta:
Kanisius, 1994
Dirdjosisworo, Soedjono, Pengantar Epistemologi dan Logika, Bandung:
Remaja Karya, 1985
Suriasumantri, Jujun S, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan, 1987

Peursen, Van dan Berling K.M, Pengantar Filsafat Ilmu, alih bahasa
Soedjono Soemargono,cet IV,Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1997
Sudarminta, Filsafat Proses, Yogyakarta: Kanisius, 1991